SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA
Showing posts with label PTK. Show all posts
Showing posts with label PTK. Show all posts

Saturday, 5 May 2012

PTK: MENINGKATKAN MINAT BELAJAR BIDANG BIMBINGAN PRIBADI DAN SOSIAL MATERI MEMAHAMI TUJUAN PENDIDIKAN PADA SISWA KELAS 8.F SEMESTER I MTs NEGERI ................. DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PENGAJARAN

B A B I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Media pengajaran merupakan alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang banyak menggunakan verbalisme, tentu akan membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira dalam belajar atau senang karena merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya. Dengan demikian kegiatan belajar akan lebih efektif.
Belajar yang efektif harus dimulai dari pengalaman langsung atau pengalaman kongkrit dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga dalam pengajaran dari pada tanpa dibantu dengan alat pengajaran. Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berusaha untuk menampilkan rangsangan (stimulus), yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, maka semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.
Hamalik (1986) mengatakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.
Dengan demikian, siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan. Untuk memanfaatkan semua alat indera indera dalam kegiatan belajar mengajar diperlukan rangsangan (stimulus). Sedangkan rangsangan tersebut dapat direaliasasikan dengan penggunaan peraga dalam pendidikan. Peraga dalam pengajaran bisa disebut dengan media pengajaran.
Hal ini ditegaskan oleh Arsyad (2003), yang mengatakan bahwa, kegiatan belajar mengajar pemakaian kata media pengajaran digantikan oleh istilah seperti alat pandang-dengar, bahan pengajaran, komunikasi pandang dengar, pendidikan alat peraga pandang, teknologi pendidikan, alat peraga, dan media penjelas. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Guru dituntut agar menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, tidak menutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru harus dapat menggunakan alat yang murah dan efisien meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan (Arsyad, 2003)
Untuk itu dalam menggunakan media pengajaran guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran, seperti apa yang disampaikan oleh Hamalik (1994), bahwa dalam mengunakan media pengajaran guru harus memahami tentang: (1) media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar, (2) fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, (3) seluk beluk proses belajar, (4) hubungan antara metode mengajar dengan media pendidikan, (5) nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran, (6) pemilihan dan penggunaan media pendidikan, (7) berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan, (8) media pendidikan dalam setiap mata pelajaran, dan (9) usaha inovasi dalam pendidikan.
Fenomena-fenomena tersebut di atas, mendorong peneliti untuk melakukan suatu penelitian tindakan (action research) dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media pengajaran pada siswa kelas VIII MTs. Beberapa alasan pentingnya media pengajaran digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dalam penelitian tindakan ini, adalah: (1) dengan media pengajaran siswa belajar akan lebih kongkrit dan tidak verbalisme, (2) siswa lebih memiliki motivasi dalam belajar, sebab dengan media pengajaran, kegiatan belajar akan lebih menarik, (3) kegiatan belajar lebih bervariatif, (4) siswa dapat melakukan kegiatan belajar sendiri dengan media pengajaran yang dihadapi, dan (5) dengan media pengajaran kegiatan belajar siswa akan lebih membawa pemikiran siswa kepada kehidupan sehari-hari.
Dengan penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti tersebut, maka muncul beberapa permasalahan dalam kegiatan penelitian ini. Mengapa media pengajaran sangat penting digunakan dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar ?. Apakah dampak penggunaan media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar? Hal ini perlu dibuktikan dalam penelitian tindakan ini, khususnya pada upaya meningkatkan minat belajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ..................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang penelitian tindakan yang berjudul Meningkatkan Minat Belajar Bidang Bimbingan Pribadi dan Sosial Materi Memahami Tujuan Pendidikan di Sekolah pada Siswa Kelas 8.F MTs Negeri ................. Kabupaten ................. dengan Menggunakan Media Pengajaran tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah Penggunaan Media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ................. ?
2. Bagaimanakah Dampak Penggunaan Media pengajaran dalam Kegiatan Belajar Mengajar pada Siswa Kelas 8.F MTs Negeri ................., Kabupaten ................. ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan: (1) Penggunaan Media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ................., dan (2) Dampak Penggunaan Media pengajaran dalam Kegiatan Belajar Mengajar pada Siswa Kelas 8.F MTs Negeri ..................

D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada rumusan tujuan penelitan tindakan tersebut, maka tujuan penelitian tindakan ini, diharapkan bermanfaat bagi :
1. Guru MTs
Sebagai masukan pengetahuan kepada guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar yang optimal dengan menggunakan media pengajaran yang tepat. Salah satunya adalah penggunaan media bermedia pengajaran dalam pembelajaran siswa kelas 8.F MTs.
2. Siswa MTs
Siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar tidak verbalisme terhadap materi yang diajarkan guru, bila guru menggunakan media pengajaran dalam proses belajar mengajarnya.
3. Lembaga MTs
Lembaga sekolah perlu memperhatikan kebutuhan media yang digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan harapan tujuan pembelajaran yang dilakukan di lembaga tersebut dapat tercapai secara optimal.
4. Literatur
Sebagai acuan dan referensi kegiatan ilmiah lainnya yang sesuai dengan topik pembahasan yang sesuai dengan permasalahan penelitian tindakan ini.



E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul Meningkatkan Minat Belajar Bidang Bimbingan Pribadi dan Sosial Materi Memahami Tujuan Pendidikan di Sekolah Pada Siswa Kelas 8.F MTs Negeri ................. yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas 8.F MTs Negeri ................. menggunakan media pengajaran dalam menyampaikan materi pembelajaran, maka dimungkinkan minat belajar dan hasil belajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ................., akan lebih baik dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebelumnya”.

F. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada permasalahan dampak penggunaan media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ................., terhadap upaya peningkatan minat belajarnya.

G. Penegasan Istilah
Agar dalam pembahasan penelitian tindakan ini mengarah pada uraian yang lebih spesifik sesuai dengan ruang lingkup penelitian, maka akan ditegaskan beberapa istilah dalam penelitian ini. Diantaranya:
1. Media Pengajaran
Media pengajaran yang dimaksud adalah peraga yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, dengan tujuan memperlancar kegiatan belajar dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran.
2. Minat Belajar
Minat belajar adalah kecenderungan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut.
Minat belajar yang dimaksud dalam penelitian tindakan ini adalah minat belajar siswa kelas 8.F MTs Negeri ................., dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.
 
Sumber: http://judulptk.blogspot.com/2010/11/pts-bimbingan-konseling-028

PTK:METODE UMPAN BALIK DENGAN MENUMBUHKAN RASA SENANG DAN NYAMAN BELAJAR MATEMATIKA, SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan berta.kwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sayangnya, untuk mencapai tujuan mulia tersebut masih ditemui banyak hambatan. Masalah pokok berkaitan dengan pendidikan yang banyak disoroti adalah soal rendahnya mutu pendidikan. Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan ditunjukkan oleh rendahnya prestasi belajar siswa di sekolah. Pada konteks pelajaran Matematika khususnya di Sekolah ……., rendahnya prestasi belajar tidak hanya pada aspek kemampuan untuk mengerti matematika sebagai pengetahuan, tetapi juga aspek rendahnya sikap terhadap matematika. Pada aspek sikap siswa, selama ini banyak siswa yang menganggap pelajaran Matematika sebagai momok yang menakutkan. Hal ini berkaitan dengan karakteristik Matematika yang abstrak, sehingga siswa kurang berminat terhadap pelajaran Matematika sehingga prestasi belajarnya rendah.


Berkaitan dengan materi matematika yang abstrak, maka pembelajaran matematika Juga harus disesuaikan dengan perkembangan anak SD. Hal ini diungkapkan ahli pendidikan matematika Dr H Djaali dari IKIP Jakarta saat dikukuhkan sebagai guru besar tetap pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Jakarta (Kompas, 6 Mei 1999). Menurut Djaali, pembelajaran matematika di SD harus disesuaikan dengan perkembangan kesiapan intelektual anak. Juga perlu kesesuaian antara banyaknya materi yang ada dalam kurikulum dengan alokasi waktu yang tersedia dan disesuaikan dengan perkembangan intelektual atau struktur kognitif dan pengalaman belajar yang telah diperoleh anak.
Disamping materi yang abstrak, kelemahan pengajaran Matematika di SD selama ini juga belum mengarah kepada permasalahan sederhana di lingkungan anak. Menurut Dr Ida Karnasih, MSc dri IKIP Medan (Kompas, 17 Mei 1999) pengajaran matematika di SD seharusnya mengarah kepada problem solving dengan mengambil contoh-contoh sederhana yang terjadi dalam keseharian lingkungan si murid. Bukan sebaliknya, mengajarkan formula­-formula, rumus-rumus atau hafalan-hafalan yang mengarahkan murid bukan kepada pemahaman atau pengertian konsep matematika, seperti yang dialami murid SD selama ini. Itu sebabnya mereka kesulitan dan sering tidak mengerti makna kansep yang diajarkan. Padahal, matematika itu harus konkret dalam penerapan kansepnya.
Kemudian banyak pakar mengungkapkan, sumber daya manusia (guru) merupakan faktor kunci keberhasilan pengajaran. Dalam pembelajaran Matematika guru merupakan kunci utama keberhasilan. Faktor Sumber Daya Manusia (guru), merupakan komponen utama dalam pendidikan, karena guru merupakan ujung tombak pembelajaran di sekolah. Soal pengajaran matematika sangat berkait dengan kemauan para guru dalam mengajar. Peroslannya, di sini di samping guru tidak mampu karena memang kurang belajar, juga disebabkan kurangnya penghargaan terhadap guru secara finansial.
Selama ini banyak yang mengklaim akibat minimnya kesejahteraan, menyebabkan guru tida.k bisa mengembangkan diri sehingga tidak kreatif. Masih banyak guru yang mengajar tidak menarik (hanya teacher telling). Guru aktif mentransfer pengetahuan dan siswa hanya menerima secara pasif. Selain itu padatnya kurikulum juga menyebabkan guru sulit mencoba berbagai variasi metode pembelajaran sehingga terkesan membosankan di depan siswa. Hal ini akan menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran matematika atau bahkan tidak menyenangi mata. pelajaran tersebut, sehingga prestasi belajarnya rendah­.
Kondisi ini juga banyak penulis alami di tempat tugas penulis yaitu di SD Negeri ABC Jakarta Pusat Untuk itu penulis berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut dengan melakukan pendekatan pembelajaran dengan pemberian umpan balik sehingga dapat menumbuhkan minat dan rasa senang siswa terhadap pelajaran matematika.

B. Permasalahan
l. Masalah.
Berdasarkan hasil belajar, pengamatan da.n fenomena sehari-hari yang penulis temui masalah yang ada di SD ……………………………… adalah sebagian besar siswa kelas 6 tidak senang dan kurang berminat terhadap pelajaran matematika sehingga hasil belajarnya rendah.
2. Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan masalah yang ada penulis berusaha mengajukan alternatif pemecahan masalah tersebut dengan metode ulnpan balik (pendekatan kasih sayang dan tutor sebaya) untuk menumbuhkan rasa senang terhadap pelajaran matematika.
3. Ruang Lingkup
Mengingat luasnya cakupan materi pelajaran Matematika penulis hanya membatasi pada materi pembagian dan perkalian pada siswa kelas 6.
4. Perumusan Masalah
Apakah dengan pemberian umpan balik dapat menumbuhkan minat dan rasa senang terhadap pelajaran Matematika pada siswa kelas 6 SD....................... tahun pelajaran 2005 / 2006 ?

PTK:Mengembangkan Prestasi Olah Raga Bola Voley di Kelas Melalui Metode Eksperimen

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Banyak orang salah menafsirkan bahwa mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah sama dengan proses penciptaan prestasi di bidang olah raga. Kesalahan tafsir ini menimbulkan kesalahan juga dalam metode atau cara mengajarkan pendidikan jasmani di sekolah. Padahal, antara pendidikan jasmani dan prestasi olah raga sama-sama memiliki metode dan target namun metode dan targetnya agak berbeda. Meski begitu, pendidikan jasmani bisa dijadikan sebagai awal dari dimulainya metode atau proses penciptaan sebuah prestasi olah raga di sekolah, yang boleh jadi bisa dilanjutkan menjadi sebuah proses penciptaan prestasi secara nasional.

Pendidikan jasmani, atau kesehatan sesungguhnya memiliki target dan tujuan yang lebih berkaitan pada kesehatan jasmani dan rohani. Melalui pendidikan jasmani, siswa diharapkan dapat tumbuh berkembang secara proporsional, terutama pada aspek jasmani dan rohaninya. Targetnya adalah ingin menciptakan generasi unggul. Yang disiplin, datang tepat waktu, rapi dan santun, bekerja keras, sportif dan kerja sama.
Pendidikan jasmani juga dapat dijadikan proses awal sebagai media penciptaan prestasi olah raga. Karena pendidikan jasmani juga menciptakan siswa yang cekatan dan terampil, salah satu modal untuk menciptakan prestasi sesuai dengan minat serta potensinya. Dalam hal ini, guru harus mengelompokkan potensi-potensi yang ada dari kelompok-kelompok siswa di sekolah tertentu. Kelompok-kelompok ini dapat dibina di luar jam pelajaran pendidikan jasmani atau biasa disebut ekstrakurikuler. Melalui kegiatan ekstrakurikuler ini tidak menutup kemungkinan akan melahirkan atlet - atlet berprestasi yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang menekankan pada aspek kegiatan motorik dan pola hidup sehat yang bertujuan untuk mengembangkan diri siswa (jasmani dan rohani) secara proporsional pada aspek keterampilan gerak (psikomotor), pengetahuan (kognitif), dan sikap (afektif). Pendidikan jasmani juga bisa menjadi media penting untuk pengembangan life skill atau kecapakan hidup. Karena di sini siswa dididik disiplin, mengerjakan sesuatu dengan tertib, pekerja keras, sportif, menghargai peraturan, dan bekerja sama dengan baik.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak yang mengabaikan pentingnya penyelenggaraan pendidikan jasmani disekolah. Pendidikan jasmani hanya dipandang hanya sebagai bagian mata pelajaran yang perlu disampaiakan di sekolah. Kebanyakan di dunia pendidikan lebih mengutamakan pengembangan mata pelajaran lain terutama mata pelajaran yang menjadi materi UAN/ UNAS. Mereka menilai pendidikan jasmani kurang memiliki nilai yang prospektif ke depan. Hal ini mengakibatkan perkembangan pendidikan jasmani di Indonesia tersendat — sendat.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa pendidikan jasmani di sekolah sesungguhnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Oleh sebab itu penulis ingin memilih judul penelitian, “ Upaya Pengembangan Prestasi Olah Raga di Kelas…………………………………. i ……………………………………………….. Melalui Metode Eksperimen Tahun Pelajaran …………………………….

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan suatu masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peningkatan prestasi belajar pendidikan jasmani bagi siswa keas.......... ................. tahun Pelajaran ..................... dengan diterapkannya metode eksperimen ?.
2. Bagaimanakah pengaruh metode eksperimen terhadap motivasi belajar pendidikan jasmani pada siswa kelas.......... ...........
tahun Pelajaran ………..

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui peningkatan prestasi belajar pendidikan jasmani pada siswa kelas……. ………………………………….. tahun Pelajaran …………….. setelah diterapkan metode eksperimen.
2. Mengetahui pengaruh motivasi belajar pendidikan jasmani khususnya cabang Bola Voly pada siswa kelas…………….……….. tahun Pelajaran………… setelah diterapkan metode eksperimen.


D. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat :
1. Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan mata Pelajaran Penjaskes.
2. Meningkatkan motivasi pada pelajaran Penjaskes.
3. Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan mata Pelajaran Penjaskes.

E. Asumsi
Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa :
1. Siswa mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh dari awal sampai akhir pelajaran.
2. Siswa menerima semua penjelasan yang disampaikan guru dengan baik.
3. Dalam mengerjakan soal tes tanpa dipengaruhi orang lain.

F. Batasan Masalah

Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi
1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas............ ................. Tahun Pelajaran ....................
2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Semester Ganjil tahun Pelajaran ...............
3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan Bola Volly.


Sumber: http://judulptk.blogspot.com/2010/04/penelitian-tindakan-kelas-015